Keindahan Desa Tompobulu, Kabupaten Maros.
Maros adalah salah satu daerah yang terkenal dengan
objek wisatanya. Salah satunya yang berada di Desa Tompobulu terletak di Kec.
Tompobulu, Kab. Maros, Prov. Sulawesi Selatan. Masyarakat Maros mayoritas
menggunakan Bahasa Makassar. Mata pencaharian masyarakat Desa Tompobulu kebanyakan
yaitu dengan bercocok tanam hingga masuk ke hutan. Sebelum mereka berangkat
untuk bertani ataupun bercocok tanam, mereka membaca do’a menurut kepercayaan mereka masing–masing agar
selamat dari mara bahaya ketika mereka memasuki hutan. Mereka berangkat ke
lahan tempat mereka mencari nafkah atau ke sawah sekitar pukul 9 pagi dan kembali ke rumah sekitar pukul 5
sore.
Selain dengan bercocok tanam, masyarakat di Desa Tompobulu juga terkenal dengan pembuat gula aren. Gula aren yang berasal dari pohon Enau dekat dari tempat mereka bermukim. Mereka mengumpulkan nira dan mencetak gula aren pada batok kelapa yang telah di belah. 7 liter cairan nira akan menghasilkan 2,5 kg Gula Aren padat. Mereka memasok Gula Aren di salah satu tempat pemasokan gula aren di Desa Tompobulu. Gula Aren berkisar antara 10.000 Rupiah hingga 12.000 Rupiah perkilonya.
Selain dengan bercocok tanam, masyarakat di Desa Tompobulu juga terkenal dengan pembuat gula aren. Gula aren yang berasal dari pohon Enau dekat dari tempat mereka bermukim. Mereka mengumpulkan nira dan mencetak gula aren pada batok kelapa yang telah di belah. 7 liter cairan nira akan menghasilkan 2,5 kg Gula Aren padat. Mereka memasok Gula Aren di salah satu tempat pemasokan gula aren di Desa Tompobulu. Gula Aren berkisar antara 10.000 Rupiah hingga 12.000 Rupiah perkilonya.
Masyarakat Tompobulu mengatakan terdapat kurang lebih 16 Air terjun yang terdapat di Desa Tompobulu. Kamis cerah kala itu, tepat pukul 10.00 pagi.
Saya berangkat dari Kota Makassar menuju Kabupaten Maros. Saya berangkat dengan rekan saya bernama Isti, salah satu rekan dari UKM Fotografi UNHAS dan di temani oleh Komunitas
Jalan Jalan Seru Maros. Kami diajak oleh anggota dari komunitas tersebut untuk mengunjungi Air terjun Merdeka, Air terjun Tujua,
dan Air terjun Taipa, Maros. Kami berdua berangkat dari Kota Makassar dengan kendaraan
sepeda motor melalui jalan poros Moncongloe hingga ke Desa Tompobulu. Sepanjang
perjalanan, ladang hijau yang terhampar luas itu serasa menyejukkan mata.
Setelah melintasi jalanan sekitar 44,0 km
yang memakan waktu kurang lebih 1 jam, kami akhirnya sampai di Desa Tompobulu. Lalu, kami
melanjutkan perjalanan dengan sepeda motor menuju lokasi yang pertama, yaitu
Air terjun Merdeka yang letaknya tidak begitu jauh dari gerbang Desa Tompobulu.
Jalur ke lokasi Air terjun Merdeka cukup aman dan tidak sulit untuk dilalui, karena kendaraan bisa masuk menuju Air terjun tersebut. Air terjun
Merdeka hanya mempunyai satu tingkat. Namun, tetap apik terlihat.
![]() |
| Air Terjun Merdeka |
Kemudian kami melanjutkan perjalanan
ke Air terjun selanjutnya, yaitu Air terjun Tujua. Jalur yang cukup sulit namun
tetap kami lalui dengan penuh semangat. Sayangnya,
kendaraan harus kami parkir di samping ladang warga, karena kami harus
menempuh perjalanan lagi menuju Air terjun dengan berjalan kaki melewati beberapa
sawah serta rumah warga yang tidak begitu banyak, kebun, dan sungai – sungai
kecil dan sedikit menanjak.
![]() | ||
Melewati kebun menuju Air Terjun Tujua
|
Air terjun Tujua merupakan salah satu Air terjun maros yang sangat segar. Menurut warga setempat, mata airnya berasal dari salah satu pegunungan yang berada di salah satu daerah Tompobulu, serta daerah di sekitar Air terjun itu juga bisa dibilang bersih dan belum banyak diketahui oleh masyarakat awam.
|
| Air Terjun Tujua |
Setelah
mengunjungi Air terjun Tujua, kami melanjutkan perjalanan ke Air terjun Taipa.
Air terjun Taipa yang juga salah satu objek wisata di Kabupaten Maros yang belum diketahui oleh masyarakat awam. Air terjun
ini lokasinya sangat dekat dengan Air terjun Tujua dan hampir mirip dengan Air terjun
Tujua. Kami berjalan kaki sekitar 1,5 km dari Air terjun Tujua dengan jalur
yang sedikit sulit dan licin serta banyak pepohonan yang menjulang tinggi. Menurut warga sekitar, mata airnya berasal dari Sungai Bainang di Desa
Tompobulu, Kec. Tompobulu, Kab. Maros. Taipa dalam Bahasa Makassar dan dalam Bahasa Indonesia yaitu mangga. Konon dinamakan Air terjun Taipa karena
dahulu banyak terdapat pohon mangga di sekitar Air terjun tersebut. Namun,
sekarang sudah jarang ditemukan pohon mangga disekitar Air terjun tersebut.
Setelah
mengunjungi beberapa Air terjun di Desa Tompobulu, Maros. Kami bergegas untuk
kembali ke rumah dan beristirahat di rumah masing – masing. Sungguh perjalanan
yang sangat menyenangkan karena adanya kekompakan diantara para pejalan serta saling membantu satu sama lain diwaktu perjalanan terdapat masalah.
Semoga
kalian tertarik dengan keindahan Desa Tompobulu dan tetap menjaga alam dengan
tidak membuang sampah sembarangan, dimanapun kamu pergi. Alam yang indah sudah diberikan oleh Sang Pencipta, tinggal kita yang akan sadar diri untuk merawatnya.
See you diperjalanan selanjutnya….
See you diperjalanan selanjutnya….



